Enrekang, Maspulfakta.com — Di tengah riuh rendah berita tentang politik yang tak kunjung reda, ekonomi yang terasa berat, harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, ada kisah sederhana dari sebuah sudut kampung.

Ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan kadang hanya bernama makanan yang cukup dan sebuah rumah yang layak.

Di Kampung Cece, Desa Sumillan, Kabupaten Enrekang, seorang lelaki renta berusia 74 tahun menunggu datangnya sebuah mimpi yang telah ia pelihara bertahun-tahun. Namanya Muhammad Nasrullah.

Usianya telah senja. Rambutnya memutih. Langkahnya tak lagi sekuat dulu. Namun satu hal yang tetap hidup dalam dirinya adalah harapan memiliki rumah sederhana untuk menghabiskan sisa usia.

Sejak istrinya wafat pada tahun 2006, hidup Nasrullah berubah.

“Saya tidak sanggup menahan kesedihan kalau pulang ke rumah dan tidak melihat istriku,” tuturnya pelan, mengenang luka yang masih tersimpan di sudut hati.

Karena itulah rumah yang menjadi saksi perjalanan hidup mereka akhirnya dijual. Ia sempat menumpang di rumah kerabat. Namun sebagai seorang lelaki yang terbiasa mandiri, ia tak ingin selamanya bergantung kepada orang lain.

Pilihan hidup membawanya ke sebuah gubuk tua, bekas kandang kambing yang berdiri di kebunnya sendiri. Di sanalah ia berteduh dari panas dan hujan. Di sanalah ia menjalani hari-hari panjang seorang diri.

Namun jauh di dalam hati, Nasrullah tidak pernah berhenti bermimpi.

Ia pernah mengumpulkan kayu sedikit demi sedikit. Tiang-tiang rumah masa depan telah disiapkan. Ia berharap suatu hari bisa membangun rumah sederhana yang layak dihuni.

“Iya, saya sudah punya tiang kayu untuk buat rumah di sini. Tapi tidak ada uang. Terlalu lama menunggu, bertahun-tahun, akhirnya kayu itu lapuk dimakan usia,” katanya.

Mimpi itu nyaris ikut lapuk bersama kayu-kayu yang disimpan. Kepala Desa Sumillan, Sudirman, membenarkan cerita tersebut.

“Sudah lama beliau ingin membangun rumah. Bahkan kayu untuk rumahnya sudah tersedia. Kalau ada bantuan dari BAZNAS, rumah itu sebenarnya bisa segera berdiri,” ujarnya.

Kabar tentang kondisi Muhammad Nasrullah akhirnya sampai ke telinga BAZNAS Kabupaten Enrekang.

Pada 10 Juni lalu, saat menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran Pasar Agro Sumillan, jajaran BAZNAS sekaligus melakukan verifikasi langsung ke lokasi tempat tinggal Nasrullah.

Respon cepat pun dilakukan.

Dua hari kemudian, tim Layanan Aktif BAZNAS turun melakukan asesmen lanjutan sebelum diputuskan dalam rapat pleno pimpinan.

Bagi BAZNAS Enrekang, setiap bantuan harus melalui proses yang terukur dan tepat sasaran. Informasi dari masyarakat diverifikasi, koordinasi dilakukan dengan pemerintah setempat, lalu bantuan disalurkan secara cepat.

Namun bantuan tidak berhenti pada angka dan nominal. Semangat yang ingin dibangun adalah gotong royong.

Karena rumah yang akan dibangun untuk Muhammad Nasrullah bukan hanya rumah miliknya, melainkan simbol kepedulian bersama.

Di tanah Massenrempulu, nilai itu dikenal dengan istilah Tobana—tolong-menolong, bantu-membantu, dan saling menguatkan dalam kebaikan.

Kini secercah cahaya mulai menyinari hari-hari Nasrullah. Rumah yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam angan perlahan akan menjadi kenyataan.

Padahal selama ini, lelaki tua itu dikenal sebagai sosok yang teguh menjaga ibadah. Magrib, Isya, dan Subuh hampir tak pernah ia lewatkan tanpa berjamaah di masjid. Hanya Zuhur dan Asar yang kadang membuatnya terlambat karena kesibukan mengurus kebun.

Melihat keteguhan itu, Pimpinan BAZNAS Enrekang, Baharuddin, menyampaikan pesan yang menenangkan.

“Tidak usah susah hati, Ambe. Tenang saja. Jaga ibadah. Insya Allah rumah akan segera kita bangun,” katanya, Minggu (21/6/2026).

Mendengar kabar tersebut, wajah Nasrullah tampak berbinar.

“Saya sangat bersyukur. Siapa yang tidak suka mendapat bantuan seperti ini,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

BAZNAS Enrekang telah mengalokasikan bantuan stimulan senilai Rp15 juta untuk pembangunan rumah layak huni tersebut. Namun lebih dari itu, yang sedang dibangun sesungguhnya adalah harapan.

Harapan bahwa tidak ada warga yang dibiarkan menua dalam kesendirian.Harapan bahwa kepedulian masih hidup di tengah masyarakat.

Dan harapan bahwa di ujung senja kehidupan Muhammad Nasrullah, akan berdiri sebuah rumah sederhana yang bukan hanya terbuat dari kayu dan dinding, tetapi juga dari cinta, doa, serta gotong royong banyak orang.

Sebab setiap manusia berhak memiliki tempat pulang. Dan bagi Muhammad Nasrullah, penantian panjang itu kini hampir berakhir.